Rp. 1,- Bisa Dapat Handphone Atau Televisi

Posted on

Bukan tidak mungkin ketika kita hanya memiliki Rp. 1,00 namun bisa beli Handphone bahkan sekaligus televisi, saat ini memang masih sebatas wacana dan mungkin angan-angan. Namun jika apa yang di sampaikan BI beberapa waktu lalu tentang rencana redenominasi benar-benar dilaksanakan maka nilai uang rupiah tersebut akan berubah. Wacana kebijakan ini ternyata mendapatkan tanggapan yang beragam dari beragam orang dengan latar belakang berpikir, pekerjaan dan background pendidikan, mereka berargumen dengan sebatas pengertian dan pemahamannya.

Sebenarnya dampak bagi konsumen tidak begitu berarti jika proses redenominasi ini dipersiapkan dengan matang dan sistematis. Karena redenominasi berbeda jauh dengan sanering, hal yang harus diantisipasi dengan baik adalah “KERESAHAN MASYARAKAT”, karena jika ini terjadi maka berimbas pada peralihan dana masyarakat dalam bentuk mata uang luar negeri dan ini yang harus dihindari ketika proses redenominasi ini dilaksanakan.

Proses redenominasi tentu harus dilakukan bertahap dan dengan perhitungan yang ketat. Namun, tentu permasalahan tidak sesederhana kelihatannya. Sebelum melakukan redenominasi, ada beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi, yaitu :

  1. Pertama, inflasi harus berada di kisaran rendah dan pergerakannya stabil.
  2. Kedua, stabilitas perekonomian terjaga dan jaminan stabilitas harga.
  3. Ketiga, kesiapan masyarakat harus ada.

Dan aspek ketiga inilah yang perlu dipertimbangkan matang-matang. Kesiapan psikologis masyarakat adalah hal terpenting bagi efektifnya suatu kebijakan. Banyak sudah kebijakan publik yang baik secara teori, namun gagal di lapangan karena kesiapan publik yang belum ada.

Akibatnya akan muncul salah kaprah di masyarakat yang mengganggu gerak perekonomian kita. Isu redenominasi rupiah memang harus dihindarkan dari simpang siur gejala. Keresahan dapat menyebabkan psikologi pasar terganggu dan berdampak pada perekonomian kita.

Kita juga perlu memahami bahwa isu redenominasi ini baru sebatas studi di Bank Indonesia. Artinya, penerapannya masih membutuhkan waktu dan pemikiran yang lebih dalam lagi, khususnya mengenai baik buruknya dan kesiapan masyarakat. Mudah-mudahan kita semua dapat terhindar dari sesat gejala dalam istilah-istilah yang ada.

Demikian semoga bermanfaat dan terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s