Kamuflase Sebuah Janji Politik, Andakah Korban-nya ..??

Posted on Updated on

Selamat… sekali lagi selamat.. secara tulus ikhlas saya sampaikan kepada mereka-mereka yang terpilih untuk periode 5 tahun mendatang, duduk di legeslatif (baca WAKIL RAKYAT). Dengan sebuah doa dan harapan semoga mereka bisa amanah dalam menjalankan tugas dan beban tanggungjawab yang ada dipundak mereka. Semoga.. Ya.. Allah..

Namun lain dari itu tetap ada satu kekhawatiran dan rasa kegundahan dihati, karena ternyata yang duduk di kursi terhormat adalah muka-muka lama dengan kendaraan baru, pemikiran-pemikiran lama dengan bungkus dan wadah baru, hanya sebuah re-packing saja. Bukan Fresh Production. Sebuah proses pembelajaran ber-demokrasi yang menghasilkan evaluasi NOL BESAR. Karena ternyata kesiapan mental dan pola pikir yang masih picik dari sekian banyak partai yang ada di negeri ini.

Se-umpama ini adalah panggung, mungkin lebih nikmat, sedap dipandang mata dan segar ditelinga dengan suguhan musik dangdut dengan Goyang Ngebor-nya Inul Daratista, Goyang Gergaji-nya Dewi Persik, Goyang Patah-patah-nya Anisa Bahar, atau Goyangan-goyangan artis lain, macam Julia Perez, Uut Permatasari sampe pada Trio Macan. (nggak hafal) saking banyaknya goyangan walau tetap sama yang di andalkan adalah bokong.

Yang mungkin terlalu naif jika politik disamakan dengan panggung musik dangdut, tapi sebentar… banyak sekali partai di pemilu kali ini bermunculan dengan beragam program dan Jargon masing-masing, namun tetap satu Janji Politik yang kamuflase, semu…. sulit untuk merealisasikannya, karena terkadang apa yang mereka sampaikan dan ucapkan adalah sesuatu yang tidak didasarkan pada sebuah nilai logis.. logis tidak ada partai yang berani menjanjikan akan berusaha untuk mewujudkan satu desa mendapatkan dana 1 milyard per tahun… (uang dari mana), belum lagi partai yang melakukan kontrak politik.. hmmm (kontrak kok merupakan program nasional..) tidak usah kontrak juga akan masuk di program kerja pemerintah..

Yang jelas pembangunan butuh proses panjang.. butuh sebuah kebersaman, dan butuh rasa handarbeni satu sama lain, bukan yang satu membangun yang lain menghancurkan. Disisi lain proses kedewasaan berpolitik para politikus kita masih kacangan… kalau memang berjuang demi bangsa dan rakyat, bukan karena kepentingan pribadi dan golongan, kenapa sih tidak bisa bersikap dewasa dan bijaksana.. se-andainya hasil pemilu di gugat trus terjadi pemilihan umum ulang.. waduh.. ampyun.. apa yang akan terjadi dengan negeri ini. Biaya untuk Pemilu mahal.. bung.. dab.. mas.. rek.. om…  itu juga uang rakyat, nama-nya manusia kalau mengedepankan nafsu tidak akan pernah memiliki rasa puas.. cukup.. sudah.. terima hasil-nya dan lakukan perubahan untuk yang akan datang.

Akan lebih bijaksana duduk satu meja berbicara atas nama NKRI bukan atas nama partai kambing, partai kancil, partai bunga, partai awan.. rembug nasional dengan damai dan buat perencanaan kerja kedepan.. tidak hanya menghujat dan teriak tapi tidak memberikan solusi.. capeeeeeeeeeeekkk dech..

Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s