Ingat !!! Menjadi Anggota Dewan Itu Pengabdian dan Bukan Pekerjaan !!!

Posted on Updated on

Miris melihat, mendengar dan mengetahui polah tingkah wakil-wakil kita di senayan sana. Mungkin itu satu perasaan yang berlebihan dari seorang rakyat jelata seperti saya ini. Namun apa mau di kata memang begitulah kenyataan yang harus kita nikmati dengan segala keterpaksaan.

Rasanya jika mungkin ingin saya tarik kembali suara saya pada waktu pemilu empat tahun yang lalu, meskipun hanya satu suara saya yakin ada pengaruhnya. Yang jelas tidak akan ada kata Jera bagi mereka yang terhormat di senayan sana, kalau sudah jera tidak akan mungkin khan.. kasus serupa tapi tak sama ini akan berulang dan terjadi lagi. Semua benar kata lagunya Slank.. karena ujung-ujungnya duit.

Dan inilah jika menjadi anggota DEWAN PERWAKILAN RAKYAT diartikan sebagai pekerjaan dan bukan pengabdian. Bagimana bisa amanah mengemban sebuah kepercayaan, jika yang ada di-otak mereka hanya uang, uang duit dan duit. Mungkin apa yang disampaikan beberapa rekan dalam opini-nya pada pada blognya adalah sebuah pemberontakan akan kepercayaan yang telah disalah gunakan oleh mereka-mereka yang dipertuan.

Karena saya-pun merasa dikebiri oleh mereka, apakah tidak ada kesadaran pada diri anggota Dewan bahwa mereka bisa duduk di kursi empuk, dengan segala fasilitas dan bayaran yang pantas itu hasil dari keringat rakyat yang membayar pajak, dan juga dari rakyat yang ber-desak-desakan menunggu antrian waktu pemilu berharap bahwa yang mewakili mereka di lembaga yang terhormat adalah orang yang tepat. Bisa menyuarakan apa yang mereka titipkan pada pilihannya ketika PEMILU.

Namun pada kenyataannya adalah sikap amanah yang dikesampingkan, kepercayaan yang diselewengkan. Sudah menjadi kebiasaan dan lumrah bagi mereka, Salahkah jika kita sebagai rakyat yang notebene adalah juragan mereka, yang notebene adalah bos mereka marah !!!!. Dan inilah jika sebuah kepercayaan telah di-nodai oleh tingkah laku serakah dan rakus, dengan mengandalkan aji mumpung, mumpung masih memiliki kursi, mumpung masih memiliki taji dan mumpung masih ada kesempatan untuk unjuk gigi. Karena mungkin sebentar lagi kursi itu akan pergi, taji itu sudah tidak lagi memiliki gigi. Maka yang ada hanya keterpurukan diambang kehancuran karena berujung dibalik Jeruji Besi.

Semoga mereka tidak-lah terus berusaha untuk memperbudak diri dengan menjadi bayi sehingga minta disuap-i, namun bisa berjalan mandiri demi tegaknya negeri ini dan bisa amanah terhadap kepercayaan yang telah kita berikan selama ini…. amiin….

Demikian tulisan yang jauh dari sempurna ini, semoga bermanfaat dan terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s